Minggu, 04 Oktober 2009

Kusut

RadioQ tengah memutarkan lagu-lagu.

Lagu-lagu yang sangat akrab di telingaku kala itu.

Kala aku masih sangat muda.

Hanya tidur-tiduran di kamar,

mendengarkan musik,

bernyanyi bila aku tau liriknya.

Gak ada beban.

Hiks, sekarang,,,,,

Saat santai pun, pikiran ga bisa rileks,

Ada yang mengejar,

Menuntut untuk dipikirkan.

"Kok ga pake sayur, mba?"

Anak kos, ya itu jabatanku sekarang. Ciri anak kos tu apa-apa harus sendiri, termasuk juga makan. Coba di rumah sendiri, ga perlu bingung-bingung kalo mo makan, tinggal buka tudung saji di meja makan. Ada deh 4 sehat 5 sempurna (lebay).

Tinggal di Jogja untk menimba ilmu keGigian, jauh dari rumah, jauh dari tudung saji yg tinggal dibuka kalo laper tadi. Mau ga mau harus keluar cari makan. 

Di deket kosQ (kira-kira 50 langkah kakiku) ada warung makan, baru buka 4 bulan yang lalu. Penjualnya seorang ibu dengan dibantu kroni-kroninya. 

Apa ada yang spesial?

Ada!

Selain harga yg tergolong sangat murah, sampe-sampe rasanya ibunya itu ga ngambil untung,  cuma bermodal budi luhur memberi makan anak-anak kos yang kere. Yang spesial bagiku adalah ibu penjual ini bagaikan seorang "ibu" yang memperhatikan makan anaknya. Misalnya tadi pagi aku milih makanan tanpa pake sayur.  

Ibunya bilang, "Lho kok ga pake sayur mbak." 

Aku, 'Ga bu, kebetulan hari ini ga ada sayur yang saya suka."

"Lha mbak suka sayur apa?"

"Yang jipang itu bu"

"Oh, yawdah besok ibu buatkan."

Huhuhuhuhuhuhuhu,,,,,

So sweet bukan.

Anak kos jauh dari keluarga, kurang kasih sayang, jadi terharu dengan perhatian yang mengingatkan dengan kehangatan yang biasa didapat dari rumah.

Jadi, 

makan enak, makan murah, penjual baik.

PUASSSSS....  

(^^)Y

Jumat, 02 Oktober 2009

Masa Depan


Setelah lulus mau gimana?

Mau nglanjutin apa?

Binguuuuung,,,

Rabu, 30 September 2009

Sade - By Your Side

The Power Of Music

Dapat membangkitkan semangat, dapat menimbulkan harapan, dapat mengulang kenangan, dapat menggugah hati. Kata-kata yang mengena di hati, ditunjang dengan alunan nada yang memanjakan telinga.


By Your Side (SADE)

you think i'd leave your side baby
you know me better than that
you think i'd leave you down when you're down on your knees
i wouldn't do that
i'll tell you you're right when you want
and if only you could see into me


oh when you're cold
i'll be there
hold you tight to me

when you're on the outside baby and you can`t get in
i will show you you're so much better than you know
when you're lost and you're alone and you cant get back again
i will find you darling and i will bring you home


and if you want to cry
i am here to dry your eyes
and in no time
you'll be fine

you think i'd leave your side baby
you know me better than that
you think id leave you down when you're down on your knees
i wouldn't do that
i'll tell you you're right when you want
and if only you could see into me








Hmmm, bagus ya liriknya.
    Hmmm, lagunya juga enak.
         SIP deh.

Selasa, 29 September 2009

DEVISA; baca,sadari,ubah

Sering banget dong kita denger istilah devisa. Bagi orang yg berkecimpung di ekonomi pasti ngerti banget A to Z about devisa. Tapi buat aku-yang-sekeluarganya-ekonomi-tapi-akunya-gak-ngerti-ekonomi sejujurnya ga ngerti-ngerti banget ttg devisa itu. Pas lagi blogwalking, nemu blog ttg devisa (suamigila.com). Jadi ngerti deh.

*
*
*

Devisa adalah salah satu faktor yang penting (kalo gak yang terpenting) bagi sebuah negara. Devisa yang kasus kita memakai USD, quite simply bisa dianalogikan sebagai semua tabungan yang sang ayah miliki dalam sebuah keluarga.

Ketika si anak sakit, sang ayah menjebol tabungannya untuk belanja obat. Ketika atap bocor, si ayah keluarkan tabungannya untuk benerin atap.

Ketika anaknya pengen sekolah, ayah bayar SPPnya pake devisa.

Dari mana ayah dapat devisanya? Ada banyak caranya.

Ayah A, menanam kopi di kebunnya dan di depan rumah bikin gerai kopi. Dia jual capuccino mahal. Untung besar setelah rugi sedikit dari bikin gerai kopinya. Sekalian dia nanem sayur dan piara dan buka gerai burger. Di kebunnya juga ada kayu jati. Di garasi dia bikin mainan kayu dan dia jual mahal mainan itu. Ayah 1 ini menjual barang jadi.

Yaitu harga jual = modal + bahan mentah + keahliannya.

Ayah B, punya hal yang sama. Dia punya kebun kopi, sapi dan hutan kayu. Tapi dia jual panen biji kopinya. Dia jual panen sayur dan sapinya. Dia jualin kayunya. Tentunya karena semuanya bahan mentah, harga jualmya gak seberapa.

Yaitu harga jual = bahan mentah.

Misalnya : Ayah B jual biji kopi 500 perak 1 kilo ke ayah A. Di mana 1 kilo bisa bikin 100 cangkir. Ayah B kemudian haus dan beli kopi ke ayah A. Harga 1 cangkir 200.

Nah, kebayangkan kan betapa ayah A makin kaya, sedangkan ayah B makin miskin tiap harinya?

Betapa tiap harinya, devisa ayah B makin menipis sedangkan devisa ayah A makin meningkat.

Ayah B adalah Indonesia dan ayah A adalah negara maju.

Kita sebagai rakyat Indonesia gak bisa menghalangi free trading atau gak bisa menghalangi global commerce. tapi setiap barang impor yang kita beli, sebagian dari duit itu pergi ke negara lain.

Ayah kita adalah negara kita. Dia memegang devisa dalam USD. Kita sebagai rakyat memegang IDR. Sejatinya, kita sebenernya tidak memiliki USD kita secara personal. Maksudnya gini.

kasus 1:

Elo eksport biji kopi, laku USD 1000. kemudian, lu pengen beli motor. USD 1000 lu itu ada di tangan lu, tapi sebenernya itu devisa milik negara. Ini karena setelah lu ekspor kopi, lu gak mungkin memakai USD untuk beli motor kan? makanya lu pasti tukerin USD 1000 ke negara ke rupiah, barulah beli motor.

Di kasus ini, berkat elu, devisa negara bertambah USD 1000. Sebagai tukarannya, negara memberikan elu rupiah 10 juta untuk lu pake.


Kasus 2:

gue menghabiskan 2 juta per bulan beli kopi enak asal (katakanlah perancis) bernama Bax. Enak banget. Yang gue gak sadar adalah, dari 2 juta rupiah itu, katakanlah 1 juta (USD 100) diambil oleh manajemen Bax balik ke negaranya. Apakah negara itu mengambil 1 juta rupiah? gak lah, mana laku rupiah di negara dia. Untuk mengambil 1 juta rupiah itu, Bax tukar 1 jutanya ke negara Indonesia dan dengan terpaksa negara memberikan Bax USD 100. Abis itu, Bax bawa USD 100 itu balik ke negaranya. Di negaranya, USD juga gak laku. Yang laku Euro. Makanya sesampai di Perancis, dia tukarkan USD 100 itu ke euro.

Hasil:

1. Gue bokek 2 juta.
2. Negara berkurang devidanya USD 100.
3. Perancis bertambah kaya USD 100.
4. Bax tambah kaya karena dapet Euro itu.

Dari sini keliatan ada dua bahaya:
1. Indonesia adalah pengekspor bahan mentah. yang mana harganya murah.
2. Indonesia juga mengonsumsi barang jadi yang mahal harganya.

Intinya, di kala petani kita ekspor biji kopi dan garmen, mereka dapet paling cuman USD 1 juta dan menjadi devisa negara. Tapi berapa banyak orang kota minum kopi? beli baju branded? beli sepatu import? konsumsi barang impor kita bisa menggerus devisa yang petani udah susah payah kumpulkan untuk negara.

Kalo kita pengen maju, negara harus punya uangnya/devisanya. Kita komplen pendidikan gak maju. Pemerintah akan meningkatkan pendidikan kalo ada devisa untuk bangun sekolah, lab, etc. Dari mana devisanya? harus lebih banyak orang Indonesia yang buka gerai seperti Bax itu. Di mana saking kerennya, kita yang buka cabang di negara mereka dan menyedot devisa mereka menjadi devisa negara kita.

Intinya apa coba? Kita lah yang harus mulai.

1. Beli produk lokal agar
- devisa negara tidak tergerus.
- murah
- mengurangi pengangguran.

2. Bikin usaha lokal yang menginternasional agar
- bisa ambil devisa negara lain untuk negara kita.
- jadi kaya
- juga menyerap tenaga kerja

Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah. Kita liat dulu pola konsumsi kita. gue gak bilang untuk boikot produk impor. Gue juga gak bilang kita harus pakai 100% produk lokal karena jujur aja, bikin mobil dan lainnya kita belum bisa.

Tapi yang penting ini: gua gak berhak ngatur orang bagaimana mereka harus berkonsumsi. tapi kita semua bisa memilih 1 dari 2 hal:
1. Pola konsumsi yang menggerus devisa negara?
2. Pola konsumsi yang tidak menggerus devisa negara?
dan ingat, devisa negara lah yang membangun subway. Devisa negara lah yang membangun jembatan dan jalan.

Jadi, gue personally, gak akan maki-maki kenapa jakarta gak mampu bikin subway, kalo gue lagi kejebak macet sambil minum kopi brand import.

*
*
*

Sekarang yuk kita tilik barang sehari-hari kita.
Merk tas kita?
Merk baju, celana, sepatu kita?

mau pakai merk apa aja itu emang hak kita, sebagai anak muda mungkin branded jadi salah satu hal penting (penulis-udah-ga-muda), atau mungkin faktor kualitas yg kebanyakan orang mikir klo produk dari luar tu bagus n tahan lama. Padahal ya gak juga.

Ur country, ur choice.












(hehehe, gambarnya makanan semua. penulis-suka-makan)