Senin, 04 April 2011

Untuk Menjadi Legal

Tertanggal 9 Maret 2011 panitia pengurusan STR diberangkatkan ke Jakarta untuk bermaen2, eh ngurus STR ke KKI. Empat puluh lima menit waktu tempuh kami antar bandara Semarang - Jakarta dengan nebeng pesawat singa. Sekeluar bandara, langsung cari bus Damri jurusan Blok M, lembaran hijau keluar untuk membiayai per orangnya. Bagai orang nonJakarta pada umumnya, di perjalanan kami sering mendongak ke atas, tak lain untuk melihat berbagai gedung pencakar langit.

Sesampai di Blok M, mengenteng-enteng tas yang ga enteng, esp. tas yang berisi berkas2 STR punya teman2, aku n Pipt, janjian ketemu Atak di KFC belakang Blok M, panitia lain yang untuk sementara emang udah tinggal di Jakarta. Di KFC kami sarapan2 dulu, lapar. Setelah selesai makan, meja dibersihkan, dan kami mulai menggelar lapak. Semua berkas dikeluarin, dicheck ulang kelengkapannya, memasukkan sertifikat lulus kompetensi, ngganti beberapa amplop dengan yang baru, mengurutkan kelengkapan sesuai order, dll. Untung KFC saat itu belum masuk jam makan siang, jadi masih ada beberapa kursi yang kosong, sehingga tidak memberatkan kami untuk duduk berjam-jam di sana. Semua beres kecuali satu yang lupa melampirkan surat sumpah dokter gigi. Omo.

Dari KFC kami menuju KKI yang cukup dekat dari situ, naek Taxi biru bukan Blue Bird. Ternyata cukup ramai personal individu yang datang untuk mengurus STR juga. Setelah giliran kami, kami menyerahkan segepok amplop yang berisi berkas2 STR kolektif. Maaf y mas kerjaanmu langsung jadi banyak, hehe. Yang tadi lupa melampirkan surat sumpah, alhamdulillah boleh mengirim via fax. Setelah beres, kami diberitahu kalau besok harus datang ke KKI lagi untuk mengambil bukti tanda terima berkasa STR. Oke,,Tak lupa kami berfoto di depan KKI untuk bukti otentik kami sudah melaksanakan tugas kami (kamuflase narsis).


Tapi tugas kami ga berhenti di situ untuk hari ini, masih ada titipan dari PDGI Jgja untuk PDGI Pusat. Tempatnya lumayan jauh n harus berganti-ganti alat transportasi, dimulai dari bajay - transjakarta - angkot, sampailah kami di PDGI. Wes wes wes, alhamdulillah selesai tugas amal kami, di samping tugas utama kami ngurus STR ke KKI.

---------------------------------------------

Dan singkat cerita, tak lebih dari sebulan, pihak KKI yang cekatan sudah menyelesaikan tugasnya dan mengirim STR ke kantor pos dari masing-masing kota. Penerima STR pertama adalah Atak yang mengambil langsung ke KKI, disusul Asih di Cilegon. Pa kabar kantor pos Semarang? Dipelopori Pipt yang aktif mencari keberadaan STR kami, dan alhamdulillah terlacak sudah. "STR yg d smg udah bs d ambil di kantor pos imam bardjo bw bukti pgmbln ma fc KTP", itu pesannya di Twitter.

Dan alhamdulillah, dapet juga amplop berisi berkas2 yang kutunggu, STR 1 buah, legalisir STR 3 lembar, dan kartu ID.

Jumat, 25 Maret 2011

Selamat Ulang Tahun yg ke 3 Arya

Adakah yang kangen aku posting tentang batita lucu?,, Yup di hari ini gelar batita pas banget buat dia, karena tgl 25 Maret ini dia pas berumur tiga tahun. Selamat ulang tahun Aryaaa,,


Acara perayaan kecil2an di sekolah barunya, Bukit Aksara bersama 6 orang teman sekelasnya. Dibimbing para pengajar, teman2 imutnya mengucapkan selamat, nyanyi lagu ulang tahun, dan tentunya berdoa buat Arya. Lucu n gemes rasanya ngelihat mereka dengan patuhnya mengulangi ucapan pengajarnya saat dipimpin doa,, mereka semua tak lupa memejamkan mata, khas orang dewasa saat berdoa. Hehehe,,

Kasihan Arya, di hari berbahagia ini dia lagi ga fit. Umbel terus meler di hidungnya, membuat pengasuh/orang tuanya setiap 5 menit, menyeka hidungnya yang kemerahan itu. Mata kirinya juga lagi bentol kecil,, Aduh aduh,,

Aku, adekku, mbakku n anaknya juga ikut berpartisipasi di sana, aku sebagai tukang foto juga sih. Ni hasil jepretanku mengabadikan acara spesial itu:








Malamnya, si Arya n ortu mampir ke rumahku,, kebetulan aku lagi mbuka facebook di laptopku, dan lagi buka sesi foto pas kkn yang lagi rame2. Aku tantang deh batita itu buat nebak yang mana sih tantenya (alias aku) diantara 29 orang yang lagi mejeng dengan baju sama itu. Aku sih pesimis dia bisa nunjuk yang mana aku, secara di foto itu aku masih kurus banget n lagi gak pake kacamata (beda lah ma fisikku sekarang). Tangan telunjuknya yang kecil menyusuri perlahan wajah2 yang ada di layar laptopku, dan berhenti dengan mantap dan berseru, "Ini Tante Andin!". Dan benar dia menunjuk fotoku. Aku mengelus rambutnya dengan senang, "Arya pintar," pujiku.


Dan disaat dia pamit pulang n kuminta ciuman di pipiku. CUP. Terus dia nyengir, "kena umbelku", katanya. Yealaaahh,,

Sekali lagi, selamat ulang tahun Arya. Semoga sehat selalu, dan bisa menjadi anak yang sholeh, patuh pada orang tua, pintar dan cerdas, dan menjadi orang yang hebat kelak. Amiiin,,

Senin, 07 Maret 2011

Alhamdulillah Saya Lulus Ujian Kompetensi

Tepatnya tgl 23 -2-2011 jam 9.45 ada sms masuk ke hape N76ku, dari Nanan bertuliskan, "Alhmdlh 2004 lulus smua... Alhamdulillah ya Allahhhh :)"

Aku yang bangunnya kesiangan jadi telat baca smsnya. Buka mata masih sipit-sipit lengket belek, mbaca sms dg susah payah. Langsung ngecheck twitter di laptop yang dari kemarin malem lupa aku matiin, jadinya online terus. Di twitter, udah ada perayaan, n saling mengucapkan selamat. Jadi benar adanya, Alhamdulillah aku lulus *sujud syukur*



Senang karena seangkatanku 2004 yang ujian kemarin lulus semua, tapi sedihnya ada kakak angkatanku yang belum lolos kali ini. Semoga ujian kali depan mereka bisa. Bisa!

Selasa, 01 Maret 2011

Kertas Selama 6 Tahun itu Berharga 100Ribuan

Selama 6 tahunan bergelut jadi mahasiswa, banyak kertas dan buku yang terlibat dalam keseharianku. Membuat makalah butuh kertas, buat dsc (*dental study club) butuh kertas, buat laporan butuh kertas, buat corat coret aja juga butuh kertas. Kertas-kertas tadi juga ada yang berbentuk buku tulis, dsc yang udah dijilid rapi, kertas hasil print yang gagal, majalah lama yang udah gak dibaca, kertas transkrip nilai, de el el.

Saat packing buat pindah, harus tega memutuskan membuang semua kertas-kertas itu terutama dsc yang udah dijilid rapi. Teringat saat ngumpulin dsc tiap episode, ngeprint sampulnya, dan akhirnya ke tempat foto kopi buat njilidin 3ribu/dsc, jadi sayang kan mbuangnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ke depannya, kayaknya klo gak dibuang juga buat apa, menuh-menuhin rumah ntar, dan kemungkinan besar ga akan aku baca lagi. Kalau buku sih emang aku simpen. Jadi akhirnya aku mbuang segepok dsc rapi dari mata kuliah kayak kedokteran dasar (biokim, anatomi, pat.anatomi, pat.klinik, ilmu mata, ilmu jiwa, faal, histologi), ada juga buku/dsc sosiologi, kewarganegaraan, komunikasi, fisika, kimia, biologi. Buku kedokteran gigi dasar juga ikut terseleksi, aku buangin dsc teknologi ked gigi, anestesi, dental anatomi. Bagi yang gak disebut, artinya mereka lolos seleksi alam n tetap kusimpan. Chukae (*congrats),,

Dan dari kesemua itu, numpuklah kertas2 n buku2 yang kalah seleksi alam tadi. Aku memutuskan untuk menggadaikan di suatu penadah kertas.Tapi dimana? Dulu pernah sih aku ngiloin kertas karena kebetulan ada mbah-mbah lewat kos yang emang ngiter buat beli kertas bekas. Tapi harga yang dia tawarkan hanya Rp.1000/kg, dan timbangan yang dia bawa juga ga meyakinkan (timbangan bayi posyandu). Tapi gak papa, buat bantu ibunya. Tapi aku gak pernah nglihat ibunya datang lagi ke area kosku.

Aku mencari tempat lain, dan dapat info dari temanku tentang lokasi untuk jual kertas2 bekas di Jogja, di daerah Jombor. Jadi dari jalan masuk terminal Jombor (gapura Jombor), terus aja, sampai sebelum tempat jual sate yang terkenal itu, di kanan jalan. Tempatnya kayak gudang, ada beberapa truk besar parkir di depannya, ngangkutin kertas n kardus.

Sebelumnya, aku udah diberitahu temenku tadi untuk nyortir kertasnya terlebih dahulu dari rumah. Dipisahkan antara kertas putih n kertas campur. Kertas putih itu kayak kertas fotokopian, kertas ngeprint, kertas dsc, kertas hvs gitu deh. Kertas campur itu bisa kertas buram, kertas licin, sampul buku, majalah, buku komik, buku tulis. Jadi kalau ada dsc dari kertas putih tapi udah dijilid, mendingan sampulnya dicopot, biar isinya diitung kertas putih, kalau gak, malah dihitung sebagai kertas campur yang harganya lebih murah. Aku dengan semangat nyortir, nyobekin sampul sampe keringat mengucur deras di hari yang sumuk itu.

Setumpuk kertas berkilo-kilo udah diangkut di dalam mobil. Siap meluncur ke lokasi, ditemanin pacar.

Sampai di tempat penadah kertas di Jombor itu, kertas-kertas yang udah takpisahin, langsung ditimbang berdasar jenisnya. Mbak-mbak yang njaga disitu juga udah gak meriksa detailnya, mungkin dianggap aku udah biasa nggadaiin kertas dan udah tahu aturannya karena melihat kertasku yang sudah disortir. Plus gayaku yang hap hap hap meyakinkan dan gak canggung. Hohoho.

Timbangan yang dipake kayak timbangan buat nimbang karung beras. Setelah ditimbang, hasilnya, kertas campurku beratnya 18 kg + kertas putih beratnya 34 kg. Jadi totalnya 52kg. Wow, banyak juga ya. Padahal awalnya aku mengira keseluruhan beratnya cuma 20kg'an lho. Bangga (?)

Mbaknya ngasih kertas hasil timbangan tadi, dan aku disuruh ke kasir buat dihitung n ngambil uangnya. Dan eng ing eng aku dapet Rp.100.700,-. Jadi rinciannya, kertas putih dihargai Rp.2300/kg dan kertas campur Rp.1250/kg. Alhamdulillah.

Di mobil saat perjalanan pulang, aku senyum-senyum bahagia melihat uang biru 50.000 dua lembar, sampe pacarku jadi geli lihat aku. Hasil keringatku sendiri, dalam artian sebelumnya. Hehehe.

*pict taken from noviaji14.blogspot



UPDATE : 
Satu tahun kemudian aku kembali ke kota Gudeg buat melanjutkan studiku. Dan akhirnya setelah 2,5 tahun studi, berulang lagi ritual jualin kertas bekas. Tapi tempatnya berbeda, walau masih dalam satu area Jombor, yaitu di U.D Sregep, bigger place, better service. Link ceritanya klik disini.

Kamis, 03 Februari 2011

Keluarga Pengembara

Pukul 10 malam aku kembali lagi ke rumah. Rumah besar ala sinetron itu tampak sepi sekarang. Rumah itu sudah kehilangan penghuni tetapnya lagi, mbakku-suaminya-dan putra mereka. Malam ini aku menghadiri acara syukuran rumah baru mereka.

Dalam perjalanan hidup keluargaku, kami memang sudah sering saling berpisah rumah. Pekerjaan kepala keluarga seorang banker, menuntut kami berpindah-pindah dalam frekuensi yang sering n jangka waktu yang pendek juga. Hidup kami nomaden selama kurang lebih 6 tahun.

Empat orang anak montok dilahirkan dari rahim ibu tercintaku, di Semarang kota Atlas. Setelah beberapa tahun meniti karir di Bank Semarang, bapakku di pindah juga. Tujuan pertama di Magelang. Tapi ibu dan 4 anak montok tadi tidak ikut menemani sang bapak, dengan pertimbangan Semarang-Magelang masih cukup teraih. Jadilah sang bapak ke Semarang ketika weekend, atau terkadang sang ibu membawa anak-anak montoknya ke Magelang naek bus.

Setelah menyukseskan Bank Magelang, sang bapak digeser ke tempat lain. Kali ini ke Bank Kebumen. Cukup ndeso klo didengar dari namanya. Dan dari namanya, kota ini masih masuk kawasan Jawa Tengah. Kepindahan kali ini memecah kami lagi. Tapi kali ini yang ditinggal adalah anak montok pertama, padahal saat itu dia baru kelas 6 SD. Aku juga ga tau kenapa si montok satu memilih untuk menetap di Semarang - mungkin karena sebentar lagi kelulusan SD. Montok satu emang mandiri dan hebat dari kecil. Jadilah kami sekeluarga berduyun-duyun ke Kebumen, dan menitipkan montok satu ke salah satu teman dekaaaaat sang bapak.

Dua tahun di Kebumen, dan di saat itu



berasmbung, lupa2 gitu, aku tanya2 bapakku dulu riwayat kami